Aku dan Ditto duduk di bawah pohon sambil memandang taman besar di depan kami. Akhir-akhir ini aku merasa sikap Ditto menjadi jauh lebih hangat padaku. Aku bahkan seperti melihat sisi lain dari Ditto dan aku merasa bahagia bila bersamanya.
"Dhi..."Ditto berhenti sejanak, lalu berkata sangat hati-hati."somehow, you always make me comfortable.. everytime you're around. I fell comfort.. feeling like I can always have your shoulder to lean on.. even when you just sit silently beside me..."
Aku diam saja. Aku merasa tersanjung. Sudah setahun lebih aku pacaran dengannya, ini kali pertama Ditto bersikap begitu romantisnya padaku.
Setelah hari itu, hari-hariku bersama Ditto menjadi lebih menyenangkan. Dia selalu sabar menghadapiku yang masih labil. Dia selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dan dia selalu mengerti aku dan menerima aku apa adanya. Namun, di saat hubungan aku dan Ditto semakin membaik, seseorang datang di antara kami. Byan. Dia adalah kakak kelasku waktu aku masih SMA dan aku pernah naksir padanya. Aku berjumpa dengannya di sebuah acara festival di kampusku. Sudah dua tahun lebih aku tidak pernah lagi melihatnya dan kini aku berjumpa dengannya. Byan menyapaku lebih dulu, aku nggak nyangka, setelah sekian lama tidak bertemu ternyata dia masih ingat padaku.
"Dhiyaa kan...."sapa Byan padaku.
Aku hanya bengong terdiam, nggak nyangka aja dia masih ingat aku.
"Byan. Kakak kelas SMA dulu, ingat??'
Aku ingat kok-dari tadi juga ingat.
"Oh! Kak Byan! Hai!" sahutku berkesan-surprise you greet!
Setelah itu aku ngobrol dengannya. Dia masih seperti Byan yang aku kenal dulu. Secara fisik he's so gorgeus, dan makin lama aku ngobrol dengannya-aku merasa makin terseret dalam daya tariknya. Byan meminta nomor Hpku. Sejak saat itu kami sering telepon-teleponan dan sms-an. Bahkan lebih sering dibandingkan dengan Ditto. Memang Ditto sedang sibuk mengurus skripsinya tapi dia tetap ada untukku.
Sebulan sudah aku berhungan dengan Byan tanpa sepengetahuan Ditto. Byan tahu kalau aku sudah punya pacar. Berulang kali Byan mengajakku kencan tapi berulang kali pula aku menolaknya. Aku tahu aku salah, tapi aku juga nggak bisa bohongi perasaanku kalau aku juga merasa nyaman bersama Byan. Byan sudah pernah mengungkapkan perasaanya padaku meskipun hanya melalui telepon. Dan aku tak memberi jawaba apapun padanya. Aku jahat, I leave him hanging..
Malam ini Ditto mengajakku kencan. Aku merasa sangat nggak nyaman bersama Ditto sementara pikiranku dipenuhi oleh Byan. Ditto mengajakku makan malam di sebuah cafe. Kami tak banyak bicara hingga akhirnya kami selesai makan.
"Dhi..." Ditto membuka pembicaraan. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu...."
Perasaanku menjadi lebih nggak karuan lagi saat ini. Aku hanya diam.
"Dhi...., aku sayang kamu..., you are with me to share all that I am to share life, love, and happiness. Always."
Perasaan bersalah semakin menyerangku. Aku teringat kata-kata Byan di telepon tentang bagaimana ia berharap aku putus dengan Ditto. Aku benar-benar nggak ngerti dengan perasaanku sendiri.
"Dhiyaa..."Ditto membuyarkan lamunanku.
"Eh?"
"Ada apa Dhiyaa??" Ditto bertanya dengan tatapan mata cemas kepadaku.
"Udah ngantuk?"
"Huh?", aku cuma gelengkan kepala.
"Mau cerita?" tanya Ditto.
"Cerita? Cerita apa??" aku nggak ngerti.
"Sesuatu yang ngeganggu pikiran kamu?"
Nggak mungkin kan, nggak mungkin aku cerita tentang Byan ke Ditto.
"Nggak apa-apa," jawabku.
"You're not good liar, Dhi. Aku nggak percaya kalo kamu nggak apa-apa."
"Tapi aku beneran nggak apa-apa kok."
Kupaksakan wajah tak bersalah.
"Ok, aku ggak akan maksa kamu kalo kamu memang nggak mau cerita. Tapi please, kalo ada sesuatu yang aku harus tau, let me know ya..."
Aku hampir putus asa ketika seminggu berikutnya, belum juga bisa kuredam perasaan yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Sementara Byan terus-terusan menelponku. Rasanya aku harus meluruskan semuanya dengan Byan. Kalau nggak ini akan terus jadi penghalang hubungan aku dengan Ditto. Akhirnya aku sholat, menenangkan hati, lalu tidur, atau lebih tepatnya berusaha untuk bisa tidur.
Keesokan harinya, aku mengirim sms ke Byan untuk bertemu dan membicarakan semua ini.
Kulihat dia sudah menunggu di kantin dekat kampus. Suasana kantin siang ini cukup sepi. Jadi mendukunglah untuk bisa ngomong serius dengan Byan.
"Dhiyaa..."Byan melambai-lambaikan tangannya padaku. Aku menghampirinya dan duduk berhadapan dengannya. Aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumku.
"Dhi, loe cantik hari ini," puji Byan.
"Thanks," jawabku singkat. " Kak..."
"Eh, Dhi mau pesen apa? uadah makan siang belum?"
"Oh, nggak usah. Udah makan kok," jawabku bohong.
Aku kan ke sini cuma mau bicaraain masalah kita aja.
"Yah, kok nggak pesen apa-apa. Nggak enak dong sama yang punya kantin. Orange juice aja ya...."
Aku hanya mengangguk. Byan melambaikan tangan pada pelayan dan memesan dua gelas orange juice.
"Akhirnya loe mau juga nemuin gue stelah acara festival itu."
"Eh,.. aku ke sini mau ngomong sesuatu."
"Oh, yeah... loe mau ngomong apa?" Obrolan kami berhenti sejenak. Seorang pelayan mengantar 2 gela orange juice ke meja kami.
"Aku nggak bisa nerusin hubungan kita..."
Hening antara kami berdua.
"Maafin aku Kak..." Aku hampir menangis.
"Kamu nggak bisa nerusin hubungan kita?. Dhiyaa, meskipun sedikit....ada ngak gue di hati loe?" Byan tertunduk di depanku. Suaranya merendah.
Aku nggak tahu harus jawab apa.
"Dhi, gue cinta loe...."Byan menatapkan dengan memohon. "Gue tau loe mau bilang apa."
"Aku-nggak mungkin bisa berpaling dari Ditto..."
"Gue ngerti.... meskipun ini nggak mudah buat gue, tapi berhak atas perasaan cinta loe ke Ditto.
"Maafin aku..."
"Dhiyaa, find your happiness...."
How big his heart is..