Masih hari yang sama, 25 November 2012
Dalam jam yang sama, 14.11 WIB
Di tempat yang sama, Lia Indah's Boarding house
Sedikit kuceritakan tentang suasana hari ini yang sendu, dengan rintikan tangis langit kelabu. Dalam kegundahan hati ini, yang tak pernah kumengerti keinginannya. Kumenatap langit dalam-dalam, kupejamkan mata. Kubayangkan pelangi hadir pada langit dihadapanku dengan semburat sinar surya. Lalu kubuka mata, maka pelangi pun hadir pada langit dihadapanku dengan semburat sinar surya.
Suasana itu seperti metamorfosa diriku saat ini. Ketika aku menyedihi kehidupanku, menyesalakan kelakuanku, dan kini ku mencoba mengobarkan api di dadaku. Sulit memang, menghidupkan api di hati yang dingin. Dingin sedingin-dinginnya hingga menjalar ke neuron-neuron yang membuatnya merengkut hingga tak bisa merespon sinyal katoda inderaku. Tapi ku yakin, di hatiku ada Dia, yang selalu menjagaku, merengkuhku saat nestapa menghampiriku. Dia yang selalu memberikan segala yang terbaik untukku. Dia yang selalu mengerti akan inginku. Dialah yang memilikiku. KepadaNyalah suatu hari nanti aku kembali.
Aku mempercayaiNya. Aku percaya hati ini bisa hangat kembali. Neuron-neuron bisa hidup kembali, membawaku menuju hati yang terang.
BersamaNya aku percaya, ku bisa meraih pelangi-pelangi mimpiku.
Man Jadda Wajada. Siapa yang bersunguh-sungguh akan berhasil..
Man Shabara Zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung.
Man Sara Ala Darbi Washala. Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai.
Dalam jam yang sama, 14.11 WIB
Di tempat yang sama, Lia Indah's Boarding house
Sedikit kuceritakan tentang suasana hari ini yang sendu, dengan rintikan tangis langit kelabu. Dalam kegundahan hati ini, yang tak pernah kumengerti keinginannya. Kumenatap langit dalam-dalam, kupejamkan mata. Kubayangkan pelangi hadir pada langit dihadapanku dengan semburat sinar surya. Lalu kubuka mata, maka pelangi pun hadir pada langit dihadapanku dengan semburat sinar surya.
Suasana itu seperti metamorfosa diriku saat ini. Ketika aku menyedihi kehidupanku, menyesalakan kelakuanku, dan kini ku mencoba mengobarkan api di dadaku. Sulit memang, menghidupkan api di hati yang dingin. Dingin sedingin-dinginnya hingga menjalar ke neuron-neuron yang membuatnya merengkut hingga tak bisa merespon sinyal katoda inderaku. Tapi ku yakin, di hatiku ada Dia, yang selalu menjagaku, merengkuhku saat nestapa menghampiriku. Dia yang selalu memberikan segala yang terbaik untukku. Dia yang selalu mengerti akan inginku. Dialah yang memilikiku. KepadaNyalah suatu hari nanti aku kembali.
Aku mempercayaiNya. Aku percaya hati ini bisa hangat kembali. Neuron-neuron bisa hidup kembali, membawaku menuju hati yang terang.
BersamaNya aku percaya, ku bisa meraih pelangi-pelangi mimpiku.
Man Jadda Wajada. Siapa yang bersunguh-sungguh akan berhasil..
Man Shabara Zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung.
Man Sara Ala Darbi Washala. Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar